Meresapi Kesyukuran

Bersyukurlah :)Sepertinya klise saat saya mengangkat materi ini. Namun ternyata, rasa syukur ini lebih terasa rumit , sebagaimana yang saya pahami sebelumnya. Namun sekaligus bisa menjadi sangat sederhana dalam waktu yang bersamaan.

Menjadi rumit, karena tidak ada satu pun sekolah di dunia ini, yang mengajarkan menjadi jiwa yang bersyukur di dalam salah satu mata ajarnya. Apalagi disusun dalam kurikulum, dan terbungkus dalam bahan ajar yang rapi dan terstuktur. Kalau lah ada hal semacam itu di dunia, tidak pula semerta merta, jiwa bersyukur akan datang kepada mu.

Menjadi sederhana, karena bagi jiwa yang bisa merasakan kesyukuran, harta segenggam tangan, bisa lebih membuat tenteram daripada harta segunung himalaya. Sesederhana dirimu yang pasti tersenyum, tatkala melihat pancar kebahagiaan anak anakmu yang pergi ke sekolah dengan boneka kesayangannya.

Namun barangkali dibalik itu, sebagaimana saya dan Anda yang dibesarkan dengan lagu anak anak di negeri ini. Ada beberapa hal yang rupa rupanya saya sadari, ketika saya sudah dewasa, mendidik saya untuk menjadi pribadi labil dan jauh dari rasa syukur. Sebut saja lagu “Balonku”. Tengoklah lirik berikut ini:

 

Balonku ada lima

Rupa rupa warnanya

Hjau Kuning Kelabu

Merah Muda dan Biru

Meletus Balon Hijau

DOOOR!

Hatiku SANGAT KACAU

Balonku TINGGAL Empat

Kupegang ERAT ERAT.

 

Coba dengan seksama tiga lirik terakhir, sekilas mungkin tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tapi jika lihat lebih dalam, lebih dekat, ada hal yang tidak pada tempatnya. Mari bersama kita lihat lebih dalam.

 

1. Hatiku SANGAT KACAU

Bagian lagu ini cukup membuat saya miris, betapa hanya dengan sebuah balon yang meletus, hati seorang anak sudah “diarahkan” menjadi sangat kacau. Bukankah itu hanya balon? Ayolah yang benar saja, hanya sebuah balon yang meletus, membuat hatimu sangat kacau!?

Jika kita melihat sejenak ungkapan

“As above, so below. As Within, So Without. (Hermes Trismegistus)

Maka hati yang SANGAT kacau, akan menyebabkan hidupmu makin kacau, setidaknya itu kata Hermes.

 

2. Balonku TINGGAL Empat

Lirik ini lah yang saya soroti benar. Sungguh pernyataan berulang yang membuat saya menyadari, dari kecil kita didik dengan lagu yang mengajarkan kita untuk tidak menjadi hamba yang bersyukur.

Balonku TINGGAL Empat, dari Lima balon.!?

Masih EMPAT,,MASIH EMPAT.. Adikku yang manis….

Ayolah jangan cengeng begitu, masih ada Empat balon yang bisa kita syukuri, daripada satu balon yang sudah meletus.

 

3. Kupegang ERAT ERAT

Lagi lagi, lagu ini melawan logika berpikir saya. Apa hubungannya coba balon meletus dengan kupegang erat erat!? Apakah kalau sudah dipegang erat, maka balonnya tidak akan meletus!?

Kalau jadi tidak terbang, mungkin ya. Tapi kalau meletus ya meletus saja.

Solusi yang gagal melewati jalur logika pikir.

Maka saya pikir tidak heran, banyak yang kemudian setelah dewasa, mencari solusi masalah di luar akal sehatnya.

Dan juga say amenjadi tidak heran lagi, melihat semakin banyak anak muda sekarang yang susah MOVE ON. Barangkali masa kecilnya terlalu sering dengar lagu ini.

 

Sekedar catatan kecil mengawali pekan ini. Selamat bekerja kawan. Semoga pekan ini menjadi pekan yang menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco

%d blogger menyukai ini:
Lewat ke baris perkakas