Masih Dianggap Mewah

News Analysis oleh Bayu Bagas Hapsoro, Ekonom UNNES.

Tribun Jateng, SEMARANG – Mengutip data pertumbuhan investor dari Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Semarang, jumlah investor di Kota Semarang saja hingga September 2017 mencapai 24.620 investor. Jumlah ini terus mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan data pada bulan Desember 2016 dengan jumlah 21.346 investor.

Di sisi lain, berdasarkan data BEI, hingga Oktober 2017, investor untuk wilayah Jateng didominasi oleh usia kerja antara 30-50 tahun yang mencapai kisaran 50 persen. Investor berusia 19-25 tahun pada kisaran angka 30 persen dan sisanya 20 persen dari usia 50 tahun ke atas. Sementara dari sisi pekerjaan, tertinggi masih di dominasi oleh kalangan pegawai swasta dengan 26.918 investor, diikuti pelajar dan mahasiswa dengan 7.488 investor , pengusaha 4.703 investor, dan PNS 2.833 investor, sisanya dari kalangan TNI & Polri.

Tentu saja kondisi ini relatif menjadi kabar baik di tengah isu pro-kontra melemahnya daya beli masyarakat. Setidaknya masyarakat umum, sudah mulai sadar ada skema investasi lain, selain emas dan tanah, yang mampu menjadi investasi alternatif.

Kendala klasik yang sering menjadi penyebab, diantaranya masih adanya masyarakat yang buta investasi (financial literacy). Hal ini terjadi bukan karena tidak adanya modal, melainkan karena masih ada masyarakat yang tdak benar-benar paham, apa dan bagaimana melakukan investasi di pasar modal.

Sejumlah masyarakat masih banyak yang tidak tahu, bahwa hanya dengan uang Rp.100 ribu, mereka sudah dapat membeli saham, dan menjadi investor. Tidak hanya itu, sejumlah kemudahan juga dapat dinikmati oleh investor jaman milenial, diantaranya dapat melakukan transaksi dimana saja, kapan saja, dengan menggunakan laptop atau bahkan bisa juga dengan menggunakan perangkat telepon pintar.

Hal lain yang masih menjadi tantangan adalah, permasalahan investasi ini masih belum dianggap sebagai budaya, bahkan masih dianggap sebagai kemewahan, yang hanya mampu dilakukan oleh orang yang berpendidikan dan berpenghasilan tinggi. Di negara tetangga, seperti Singpaura dan Malaysia, sudah lazim ditemui seorang Ibu yang tidak bekerja di kantor, melakuan transaksi investasi saham dari rumah, hanya bermodal komputer dan saluran internet.

Bahkan dengan makin berkembangnya perusahaan sekuritas di Jawa Tengah, dan begitu terbukanya arus informasi, masyarakat awam pun, seharusnya juga mampu berinvestasi, karena pasti akan mendapat dukungan teknis dan non teknis dari perusahaan sekuritas. Sekiranya masih kurang, masih ada Kantor Perwakilan BEI di Semarang, yang selalu terbuka untuk memberikan informasi yang benar terkait investasi di pasar modal.

Dari sisi Pemerintah, saat ini sudah melakukan sejumlah langkah nyata, untuk menambah jumlah investor lokal. Dengan menggandeng BEI sebagai garda depan, sejumlah upaya edukasi terus dilakuan, khususnya bagi calon investor potensial, seperti pelajar dan mahasiswa. Sejumlah gerai Pasar Modal, terus bertumbuhan dari tahun ke tahun, mengalami kenaikan yang signifikan. Bahkan dengan melakukan kerja sama dengan sejumlah kampus di Jawa Tengah, edukasi pasar modal yang berbasis di Perguruan Tinggi ini, sudah merambah hingga beberapa Sekolah Menengah di Jawa Tengah.

Beberapa program untuk menarik investor seperti gerakan “Yuk, Menabung Saham”, dan sejumlah program lain, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya edukasi kepada masyarakat.

Tantangan ke depan yang menjadi tugas bersama adalah bagaimana menjadikan investasi ini, menjadi bagian dari gaya hidup dan budaya di masyarakat Jawa Tengah. Bahkan jika perlu, edukasi investasi di pasar modal ini juga dapat dilakukan dengan pendekatan budaya, misal dengan pementasan wayang kulit, campur sari, dan lainnya. Selain itu, kesiapan infrastruktur pasar modal, termasuk diantaranya SDM profesional yang mampu melakuan pendekatan kultural, menjadi bagian yang harus disiapkan secara terstrukur dan komprehensif. JIka hal ini dilakukan, bukan tidak mungkin, ini akan menjadi solusi nyata bagi pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah.

(*) Tulisan ini pernah dimuat di Harian Tribun Jateng, Jumat,  1 Desember 2017 pada Kolom News Analysis.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d blogger menyukai ini:
Lewat ke baris perkakas