Perhatikan Kearifan Lokal

News Analysis oleh Bayu Bagas Hapsoro, Dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unnes

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Rencana untuk membangun jaringan pipa gas rumah tangga di Jawa Tengah perlu kajian lebih lanjut. Tidak hanya dampak ekonomi, juga dampak sosial yang mungkin akan muncul.

Meskipun jaringan pipa gas rumah tangga ini, secara terbatas sudah dirasakan oleh warga Semarang sejak tiga tahun lalu, namun untuk penerapan dalam skala yang lebih besar, perlu ada kajian lebih lanjut.

Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah, pertama, melakukan sosialisasi manfaat akan keunggulan jaringan pipa gas rumah tangga dibandingkan dengan gas tabung.

Selain manfaat ekonomi, dimana harga gas melalui pipa Rp 3.333 per m3, dibanding gas tabung melon, terdapat selisih harga sekitar Rp 6.000. Itu dalam kondisi normal.

Belum lagi terkait distribusi gas melon yang kadang menyebabkan kelangkaan tabung gas, sehingga akan terjadi kenaikan harga di tingkat pengecer hingga 30% bahkan lebih.

Kedua, hal yang perlu dilakukan adalah dampak sosial, dimana pemerintah dalam penyedia layanan harus mampu meyakinkan pengguna masyarakat bahwa jaringan pipa gas rumah tangga ini, aman digunakan.

Hal ini bisa saja dilakukan dengan menggunakan iklan layanan masyarakat melalui media masa cetak atau elektronik. Pemerintah juga bisa melakukan sosialisasi dengan memanfaatkan media sosial daring secara kreatif, misal mengandeng komikus atau vlogger.

Beberapa warga di kawasan melati baru, Semarang misalnya, mengaku waswas , khususnya pada saat awal diberlakuan jaringan pipa gas ini, tapi dengan sosialisasi dan dukungan petugas yang sigap menangani kendala teknis, secara berangsur warga mulai percaya bahwa jaringan ini aman.

Bahkan beberapa warga, justru merekomendasikan pemakaian pipa gas ini untuk bisa dipasang di tempat lain.

Warga Mlatibaru mengaku merasakan lebih hemat menggunakan jaringan pipa gas, meski ada pemakaian minimum per bulan sekitar Rp 15.000, tapi jika digunakan secara berkala, mereka menganggap lebih untung pakai jaringan pipa gas.

Selain itu, mereka juga tidak direpotkan mengangkat tabung gas, selain itu ketersediaan pasokan juga selalu siap 24 jam.

Selanjutnya, distribusi pipa gas rumah tangga ini, juga harus tepat sasaran.

Saat ini PT PGN telah membagi produk jaringan pipa untuk kalangan rumah tangga, industri, dan transportasi. Hal ini harus terus dilakukan pengawasan, agar tidak disalahgunakan.

Dengan melihat tingginya potensi pemakaian jaringan gas ini, maka koordinasi antara Pemerintah, Pertamina dan PGN, serta para pemangku kepentingan lainnya mutlak dilakukan.

Masih munculnya kendala pemasangan jaringan, seperti yang terjadi pada jaringan pipa Gresik Semarang yang terkendala pembebasan lahan, juga perlu mendapat dukungan penuh dari pihak terkait.

Terakhir, sebagaimana yang disebutkan Christensen Clayton, dalam bukunya The Innovators’s Dillema, dalam upaya untuk melakukan inovasi layanan, tidak hanya melakukan konfigurasi ulang layanan yang ada, tetapi juga diperlukan kesinambungan keseluruhan rantai nilai, dari pengadaan hingga distribusi ke konsumen akhir.

Untuk itu, terkait dengan jaringan pipa, maka perlu adanya grand design yang menyeluruh, tapi juga tetap memperhatikan kearifan lokal, hingga akan meminimalkan friksi yang terjadi di masyarakat.

Jika hal ini dilakukan dengan benar, maka teknologi pipa gas seharusnya bisa jadi solusi kebutuhan gas di masa depan.

(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Tribun Jateng, Senin 6 November 2017 pada Kolom Liputan Khusus.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d blogger menyukai ini:
Lewat ke baris perkakas